Surat Menyurat

1. Arti Surat

Surat adalah suatu sarana untuk menyampaikan informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak lain. Informasi dalam surat dapat berupa pemberitahuan, pernyataan, permintaan, laporan, pemikiran, sanggahan, dan sebagainya. Agar komunikasi melalui surat dinilai efektif, maka isi atau maksud surat harus terang dan jelas, serta tidak menimbulkan salah arti pada pihak penerima.

 

2. Tujuan Menulis Surat Tujuan menulis surat secara garis besar diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:

a. Menyampaikan informasi kepada pembaca surat;

b. Mendapatkan tanggapan dari pembaca surat tentang isi surat;

c. Ingin mendapatkan tanggapan dan menyampaikan informasi kepada pembaca surat.

 

3. Fungsi Surat Fungsi surat dalam suatu organisasi antara lain:

a. Surat sebagai media komunikasi.

b. Surat sebagai barometer.

c. Surat sebagai duta penulis.

d. Surat sebagai bukti tertulis.

e. Surat sebagai salah satu otak kegiatan suatu kantor

 

4. Jenis Surat

a. Surat pribadi Surat pribadi adalah surat yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Surat dapat berupa korespondensi antara sesama teman atau keluarga. Ciri-ciri surat pribadi yaitu :

1. Tidak menggunakan kop surat

2. Tidak ada nomor surat

3. Salam pembuka dan penutup bervariasi

4. Penggunaan bahasa bebas, sesuai keinginan penulis

5. Format surat bebas

 

b. Surat Niaga Surat niaga digunakan bagi badan yang menyelenggarakan kegiatan usaha niaga seperti industri dan usaha jasa. Surat ini sangat berguna dalam membangun hubungan dengan pihak luar sehingga harus disusun dengan baik. Surat niaga terdiri atas surat jual beli, kwintansi, dan perdagangan; dan dapat dibagi atas surat niaga internal dan surat niaga eksternal. Salah satu contoh dari surat niaga adalan surat penawaran dan surat penagihan.

 

c. Surat Dinas Surat dinas digunakan untuk kepentingan pekerjaan formal seperti instansi dinas dan tugas kantor. Surat ini penting dalam pengelolaan administrasi dalam suatu instansi. Fungsi dari surat dinas yaitu sebagai dokumen bukti tertulis, alat pengingat berkaitan fungsinya dengan arsip, bukti sejarah atas perkembangan instansi, dan pedoman kerja dalam bentuk surat keputusan dan surat instruksi. Ciri-ciri surat dinas :

1. Menggunakan kop surat dan instansi atau lembaga yang bersangkutan

2. Menggunakan nomor surat, lampiran, dan perihal

3. Menggunakan salam pembuka dan penutup yang baku

4. Menggunakan bahasa baku atau ragam resmi

5. Menggunakan cap atau stempel instansi atau kantor pembuat surat

6. Format surat tertentu

Laporan

A.  Pengertian laporan

Laporan ialah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yangberhubungan secara structural atau kedinasan setelah melaksanakan tugas yang diberikan.Laporan tersebut sebagai bukti pertanggung jawaban bawahan/petugas tim/panitia kepadaatasannya atas pelaksanaan tugas yang diberikan.

B.   Dasar – dasar membuat Laporan

a.    Clear
Kejelasan suatu laporan diperlukan baik kejelasan dalam pemakaian bahasa, istilah, maupun kata-kata harus yang mudah dicerna, dipahami dan dimengerti bagi si pembaca.
b.    Mengenai sasaran permasalahannya
Caranya dengan jalan menghindarkan pemakaian kata-kata yang membingungkan atau tidak muluk-muluk, demikian juga hal dalam penyusunan kata-kata maupun kalimat harus jelasm singkat jangan sampai melantur kemana-mana dan bertele-tele yang membuat si pembaca laporan semakin bingung dan tidak mengerti.

c.    Lengkap (complete)
Kelengkapan tersebut menyangkut :
1.    Permasalahan yang dibahas harus sudah terselesaikan semua sehingga tidak menimbulkan tanda Tanya
2.    Pembahasan urutan permasalahan harus sesuai dengan prioritas penting tidaknya permasalahan diselesaikan
d.    Tepat waktu dan cermat
Tepat waktu sangat diperlukan dalam penyampaian laporan kepada pihak-pihak yang membutuhkan karena pihak yang membutuhkan laporan untuk menghadapi masalah-masalah yang bersifat mendadak membutuhkan pembuatan laporan yang bisa diusahakan secepat-cepatnya dibuat dan disampaikan.
e.    Tetap (consistent)
Laporan yang didukung data-data yang bersifat tetap dalam arti selalu akurat dan tidak berubah-ubah sesuai dengan perubahan waktu dan keadaan akan membuat suatu laporan lebih dapat dipercaya dan diterima.
f.      Objective dan Factual
Pembuatan laporan harus berdasarkan fakta-fakta yang bisa dibuktikan kebenarannya maupun dibuat secara obyektif.
g.    Harus ada proses timbal balik
a. Laporan yang baik harus bisa dipahami dan dimengerti sehingga menimbulkan gairah dan minat si pembaca
b. Jika si pembaca memberikan respon berarti menunjukkan adanya proses timbal balik yang bisa memanfaatkan secara pemberi laporan maupun si pembaca laporan.

C. Struktur / Sistematika Laporan

Laporan lengkap yang lengkap, harus dapat menjawab semua pertanyaan mengenai : apa ( what ), mengapa ( why ), siapa ( Who ), dimana ( where ), kapan ( when ), bagaimana ( how ).

Urutan isi laporan sebaiknya diatur, sehingga penerima laporan dapat mudah memahami. Urutan isi laporan antara lain sebagai berikut :
1. Pendahuluan

Pada pendahuluan disebutkan tentang :

  1. Latar belakang kegiatan.
  2. Dasar hukum kegiatan.
  3. Apa maksud dan tujuan kegiatan.
  4. Ruang lingkup isi laporan.

2. Isi Laporan
Pada bagian ini dimuat segala sesuatu yang ingin dilaporkan antara lain :
1)    Jenis kegiatan
2)    Tempat dan waktu kegiatan.
3)    Petugas kegiatan.
4)    Persiapan dan rencana kegiatan.
5)    Peserta kegiatan.
6)    Pelaksanaan kegiatan (menurut bidangnya, urutan waktu pelaksanaan, urutan fakta / datanya).
7)   Kesulitan dan hambatan.
8)    Hasil kegiatan.
9)    Kesimpulan dan saran penyempurnaan kegiatan yang akan datang.

3. Penutup
Pada kegiatan ini ditulis ucapan terima kasih kepada yang telah membantu penyelenggaraan kegiatan itu, dan permintaan maaf bila ada kekurangan-kekurangan. Juga dengan maksud apa laporan itu dibuat.

D. Contoh Laporan

Contoh Laporan Kerja Praktek

LAPORAN KERJA PRAKTEK
PERANCANGAN SISTEM SIRKULASI KORAN
DI ALVA AGENCY
Kuliah Kerja praktek
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
Untuk dapat Mengambil Tugas Akhir

Disusun Oleh :

Nama : Ahmad fuadin
NIM : 08C1080410

JENJANG STRATA 1
PROGRAM STUDI SISTIM INFORMATIKA BISNIS
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
MERCUSUAR
BEKASI

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa akhirnya Laporan Kuliah Kerja Praktek (KKP) yang berjudul (Perancangan Sistim Sirkulasi Koran di Alva Agency ), dapat diselesaikan sesuai tepat waktu.
Dalam kesempatan kali ini, penulis akan menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu penyelesaian kuliah kerja praktek, antara lain :
1. Ibu Hj. Eny Azizah, selaku Ketua Yayasan Pendidikan Administrasi Indonesia
2. Bapak H. Much Pasjon, SE, MM, selaku Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Mercusuar.
3. Bapak Agus Sumaryanto,Skom, selaku Pembimbing Kuliah Kerja Praktek
4. Bapak H. Ahmad, Pemilik Alva Agency yang telah membantu penyusunan kerja praktek.
5. Team Loper Alva Agency ( Bang Jamal, Azis, Pa Oki )
6. Bapak dan Mamah yang membantu materi pembelian laptop untuk menyusun KKP
7. Kakakku Nartin,SE dan Nuri Setyowati,Amd yang membantu Pemikiran penyusunan KKP ini
Dalam menyusun laporan kerja praktek ini penulis sadar masih banyak kekurangan, dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan laporan ini.

Ahmad Fuadin
BAB I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Berkembangnya media informasi saat ini dikarenakan kebutuhan akan informasi yang tidak terbendung oleh semua orang sehingga para pembuat informasi terus terpacu untuk melakukan perubahan untuk mengikuti tuntutan jaman, media informasi saat ini sudah sangat banyak jenisnya, ada 2 jenis media informasi dimulai dengan media cetak seperti koran, majalah, flyer, dan spanduk, serta juga ada media elektronik seperti internet, televisi dan radio.
Koran adalah sebuah media informasi terlama yang masih ada hingga saat ini, Koran sudah menjadi salah satu media informasi yang dibutuhkan saat ini selain internet, majalah dll, karena beritanya yang update dan terus berganti setiap harinya sesuai berita yang berkembang di masyarakat sekitar baik yang di dalam negeri maupun hingga luar negeri. Para pelanggan koran atau yang membeli Koran biasa disebut pembaca. Koran atau surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, Koran biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang biasa disebut dengan kertas Koran. Koran berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik dan pembahasan, topik atau pembahasannya dapat berupa event politik, kriminalitas, olahraga, ekonomi, dan cuaca, surat kabar atau Koran juga biasa berisi kartun, TTS dan rubrik hiburan lainnya. Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu dan fokus pada satu bidang atau topik, misalnya berita untuk industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni, atau partisipan kegiatan tertentu.
Sirkulasi koran merupakan cara perputaran koran dan bertransaksi para agen koran maupun pedagang eceran koran dalam menjalankan distribusi koran, sirkulasi atau peredaran yang mencakup cara pendistribusian koran mulai dari koran datang, dijual hingga menghitung sisa koran untuk di kembalikan atau retur. Proses ini sudah sangat lazim atau umum digunakan dalam usaha agen maupun retail koran, tapi sangat sederhananya pembukuan dan tidak rapi serta sulitnya pendokumentasian sirkulasi di agen koran karena semua hanya ditulis tangan dengan pembukuan sederhana
Kurangnya sistem yang baik dalam pencatatan dan pendokumentasian sirkulasi koran pada agen koran yang saya jadikan tempat praktek kerja lapangan (PKL) maka saya ingin memberikan solusi dari permasalahan tersebut, yaitu dengan membuat sistem pencatatan yang dipadukan dengan sistem yang sudah ada dibantu sistem pendokumentasian komputer yang mudah dimengerti serta membantu dalam kegiatan sirkulasi koran tersebut, baik pendataan koran, koran terjual hingga koran yang dikembalikan atau retur.
Atas dasar hal-hal diatas maka penulis mengambil judul laporan kerja praktek adalah “Perancangan Sistem Sirkulasi Koran di Alva Agency”
1.2. Maksud dan Tujuan
Kuliah kerja praktek merupakan kegiatan yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa, adapun maksud dan tujuan kuliah kerja praktek adalah :
1. Sarana mahasiswa/wi untuk melihat secara nyata dunia kerja
2. Menerapkan ilmu yang diterima di bangku kuliah di bidang pekerjaan yang ada dalam obyek kerja praktek
3. Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengambil tugas akhir

1.3 Mekanisme dan Pelaksanaan Kerja Praktek
Dalam melaksanakan kerja praktek ini penulis melakukan riset dengan mendatangi obyek kerja praktek, kemudian mengamati dan menganalisa serta menuangkannya dalam sebuah laporan.
Penulis melaksanakan kerja di agen Koran Alva Agency, secara khusus meriset tentang sirkulasi koran mulai tanggal 22 Oktober 2011 sampai dengan 15 Nopember 2011 dan dibimbing langsung oleh bapak H. Ahmad sendiri.
1.4 Metodelogi Penilitian
Melaksanakan dan menyusun laporan kerja praktek ini penulis menggunakan pendekatan metodelogi penilitian sebagai berikut :
1. Studi Lapangan
Penulis datang langsung ke obyek kerja praktek kemudian mengamati, menganalisa dan membuat desain pemecahan masalah
2. Wawancara
Dalam mendalami permasalahan, penulis melakukan wawancara langsung dengan personal-personal (Loper- Loper) yang berkaitan langsung dengan tema kerja praktek
3. Literature
Untuk mendukung dalam proses penulisan, penulis memanfaatkan literature- literatur yang berkaitan dengan tema kerja praktek baik dalam bentuk buku pustaka, informasi perusahaan, obyek kerja praktek dan literature yang penulis ambil dari media internet

1.3. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam penyusunan laporan kerja praktek ini penulis membagi dalam beberapa bab yaitu:
Bab 1 Pendahuluan
Pada bab ini terdiri dari latar belakang pembuatan laporan kerja praktek, maksud dan tujuan, mekanisme dan pelaksanaan kerja praktek, metologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab 2 Tinjauan Umum
Pada bab ini menjelaskan tentang sejarah singkat agen koran tempat penulis melakukan kerja praktek di Alva Agency, tentang status Alva Agency dan tinjauan agen koran – koran Alva Agency
Bab 3 Pembahasan
Pada bab ini terdiri tentang apa saja yang dibahas sesuai judul laporan kerja praktek “perancangan sistem sirkulasi koran di Alva Agency ” yang sudah dijalankan penulis.
Bab 4 Penutup
Berisi kesimpulan dari kerja praktek yang sudah dilakukan dan saran-saran menurut pandangan penulis.

Bab II
Tinjauan Umum

2.1 Sejarah Singkat Agen Koran
Agen Koran Alva merupakan usaha keluarga bapak H .Ahmad, yang sudah dirintis beliau dari awal tahun 1998, agen koran ini berada di daerah Jatimakmur, tepatnya di Jl Albarokah dekat PLN masuk kecamatan Pondok Gede . Nama agen koran ini dinamakan Alva Agency adalah dari nama anaknya bapak Haji panggilan akrabnya yang mempunyai sekitar 100 loper yang meyebar sekitar kecamatan Pondok Gede, demikian karena keinginan bapak Haji sendiri yang membangun usaha ini tanpa bantuan ataupun kerjasama dengan pihak lain, tapi usaha agen koran ini hingga sekarang tidak diurus legalitasnya agar menjadi usaha berbadan hukum karena menurut bapak Haji. Sendiri usaha ini terlalu kecil untuk dijadikan usaha yang berbadan hukum dan salah satu alasannya sulitnya birokrasi pembuatannya serta membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bapak Haji mendirikan usaha ini karena melihat peluang usaha di daerah tersebut, menurut bapak pada waktu awal mendirikan agen koran tersebut dikarenakan sangat jarang dan sulitnya menemukan tukang koran di daerah Jatimakmur dan bapak Haji melihat tingginya orang yang mencari koran tersebut.

Pertama kali agen koran ini didirikan bapak Haji dengan hanya menyewa tempat dia berjualan yang berukuran 2m x 2m tersebut dengan harga sewa pada saat itu hanya Rp 3.5 juta / tahun dan terletak di Jl Albarokah no 43 RT 03/ RW 07, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi. Modal untuk mendirikan usaha ini didapatkan atas hasil uang pesangon di suatu perusahaan swasta ternama di Jakarta, dimana beliau berkarir disana selama 8 tahun dari tahun 1990 hingga 1998 akibat krisis moneter akhir perusahan mengurangi jumlah karyawan bapak Haji yang termasuk. Ia tak putus asa untuk memutarkan uang pesangon tersebut.
Salah satu program kerja dari agen koran ini bagi bapak Haji tidak hanya untuk menjual koran saja tapi membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dengan cara mempekerjakan mereka untuk membantu menjualkan dan mendistribusikan koran jualannya kepada pelanggan lama maupun pelanggan baru, bapak Haji selalu menyebut para pekerjanya atau karyawannya ini dengan sebutan loker (loper koran) atau teman.

Gambar 2.1. Kegiatan Loper sehari – hari

Jam kerja para loker (loper koran) ini sangat panjang biasanya dimulai dari pagi sekali sekitar sesusai shalat subuh jam 5 pagi hingga jam 5 sore ini dikarenakan koran yang datang pun sangat pagi, sekitar jam 4 pagi, tapi ada juga loper koran yang bekerja hanya sampai jam 10 pagi atau jam 12 siang. Sistem pembayaran yang dilakukan agen koran kepada para loper koran ini dengan cara bagi hasil atas hasil penjualan koran yang diambil dari tempatnya, semakin banyak koran yang terjual maka semakin banyak pula hasil atau uang yang didapat para loker koran tersebut, inilah hal yang paling disukai oleh para loker ini. Pengambilan banyak atau sedikitnya jumlah koran yang diambil disesuaikan dengan
permintaan para loper korannya, tapi tidak hanya koran saja yang biasanya diambil dan
dijual para loper koran ini, karena agen koran ini juga menjual majalah hingga TTS (teka teki silang).
Area penjualan Agen Koran Alva sangat strategis di daerah Jatimakmur, bapak Haji membagi 2 jenis daerah penjualannya yaitu daerah pemukiman, perkampungan dan sekitar jalan raya Pondok Gede atau jalan arah Bekasi yang sangat strategis lalulang kendaraan bermotor.
2.2. Visi dan Misi
Visi dan misi sangat penting dalam menentukan tujuan serta pandangan usaha. Agen Koran Alva mempunyai visi dan misi untuk menyalurkan kebutuhan informasi kepada masyarakat dalam bentuk koran di daerah Jatimakmur, dan agar masyarakat di daerah sekitar kecamatan Pondok Gede tidak ketinggalan berita dan informasi yang lainnya, serta berusaha membantu perekonomian karyawannya.

Gambar 2.1. Penjualan kepemukiman umum

2.3. Struktur Organisasi
Organisasi merupakan pengelompokan secara teratur suatu kerjasama antar orang-orang yang bekerja untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan dan juga sudah ditetapkan. Suatu agen koran sebagai usaha penjualan koran bertujuan tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tapi juga selalu memperhatikan kesejahteraan karyawannya, untuk mencapai tujuan tersebut pihak agen koran memberikan berusaha untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan. Organisasi merupakan wadah dari manajemen, oleh karenanya manajemen tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak memiliki organisasi.
Setiap bidang usaha harus memiliki organisasi karena dengan organisasi seluruh karyawan akan mendapatkan informasi yang jelas tentang tugas dan tanggung jawabnya masing-masing di organisasi tersebut.

.

Gambar 2.1. Struktur Organisasi Agen Koran Alva

keterangan :
Pemilik : H.Ahmad
Asisten/Administrasi : Jamalludin
Sirkulasi Loper Koran : Adi, Budi, dan Agus

2.4. Fungsi dan Tugas Organisasi
Fungsi dan tugas pada setiap organisasi pasti berbeda-beda karena disesuaikan dengan tugas dan fungsinya itu sendiri di organisasi tersebut, dalam hal ini organisasi pada Agen Koran Alva sangat sederhana karena usaha ini disesuaikan dengan besar-kecilnya agen koran ini, inilah fungsi dan tugas dari masing-masing jabatan di Agen Koran Alva:
1. Pemilik
Pemilik selaku pendiri dan orang yang mempunyai modal dalam agen koran ini hanya melakukan tugas pengawasan atas semua hal yang sudah dijalankan, serta bisa juga membuat kebijakan-kebijakan baru atas perubahan yang terjadi pada usahanya tersebut, pengawasan ini meliputi dari keakuratan barang yang berupa koran dan majalah sesuai data yang dituliskan atau dilaporkan kepadanya, mengawasi pembukuan administrasi dan keuangan dan menjaga usahanya ini agar tetap berjalan serta tidak mengalami kerugian.
2. Asisten/Administrasi

Sesuai dengan penamaannya pekerjaan ini menggabungkan 2 pekerjaan tapi karena kecilnya bidang usaha yang dijalankan maka tidak terlalu komplek dan rumit pekerjaan ini, selaku orang yang terjun langsung dilapangan dalam mengawasi, mencatat, mengatur pendistribusian dan melaporkan segala transaksi koran dan kegiatan- kegiatan lainnya yang terjadi selama melakukan aktifitas di Agen Koran Alva
3. Loper Koran
Loper koran sebagai orang terdepan dalam kemajuan Agen Koran Alva, karena interaksi langsung kepada pelanggan dengan organisasi terjadi melalui para loper koran, mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengantarkan, menjual, serta mempromosikan koran dari bapak Alva

2.5. Peraturan Agen Koran
Peraturan di Agen Koran Alva sangat jelas dan tegas sehingga para pekerjaannya diharapkan bisa disiplin dan menghormati semua peraturan yang ada, inilah peraturan yang sudah ditetapkan di Agen Koran Alva:
1. Datang bekerja diharapkan tepat waktu, bila terjadi keterlambatan, ijin berhalangan masuk ataupun sakit harus ada pemberitahuan langsung kepada bapak Haji atau Jamal. sangsi yang dikenakan bila terjadi keterlambatan lebih dari 1 jam ataupun ketidakhadiran tanpa pemberitahuan adalah tidak diberikan upah harian kepada pihak bersangkutan dan hanya menerima upah penjualan koran saja
2. Selalu datang dengan rapi dan dalam keadaan bersih serta tidak menimbulkan bau tidak sedap, dan diharuskan mengenakan pakaian yang rapi, bersih, tidak bau dan tidak sobek.
3. Para pekerja berhak mendapatkan gaji bulanan yang dibagikan setiap tanggal
1 tiap bulannya dengan besaran Rp 500.000,-. serta juga mendapatkan upah
atas dari hasil penjualan tiap koran yang terjual (komisi), yang dimana komisi untuk setiap koran dan majalah itu berbeda sesuai ketetapan harga yang sudah ditentukan.

2.6. Peraturan tentang Pembayaran/Penagihan
Peraturan tentang pembayaran atau penagihan terhadap para pelanggan harus sesuai dengan surat /kwintasi yang telah ditanda tangani oleh bagian adminstrasi dan distempel agency , bahwa penagihan dinyatakan sah akan pada bulan ditagihan yang dihitung antara tanggal diantar sampai awal bulan diantar (tanggal 1 sampai tanggal 1 awal bulan).

ALVA AGENCY
Jl. Albarokah No.43 RT03/RW07
Jatimakmur, Pondok Gede
KORAN JUMLAH TAGIHAN
POSKOTA RP
KOMPAS RP
MEDIA INDONESIA RP
BERITAKOTA RP
WARTAKOTA RP
KORAN JAKARTA RP
REPUBLIKA RP
RAKYAT MERDEKA RP
LAMPU HIJAU RP
SEPUTAR RP
SUARA PEMBARUAN RP
…………………………..
TABLOID JUMLAH TAGIHAN
PULSA RP
NAKITA RP
BOLA RP
NOVA RP
BINTANG RP
WANITA INDONESIA RP
NYATA RP
OTOMOTIF RP
OTOSPORT RP
……………………………..
MAJALAH JUMLAH TAGIHAN
FEMINA RP
MYSTERY RP
BOBO RP
TEMPO RP
MODE RP
GADIS RP
GATRA RP
HIDAYAH RP
HIKAYAT RP
…………………………………… —————————————————-
Jumlah RP =

BEKASI,……………………2011

( H. Ahmad )
Bab III
Pembahasan

3.1 Analisa Permasalahan
permasalahan yang penulis ambil pada Alva Agency adalah bagaimana cara melakukan pendokumetasinan yang mudah dan cepat pada saat sirkulasi koran, karena menurut penulis Alva Agency sangat manual dan sederhana sekali dengan hanya menulis tangan, serta dengan layout sederhana dalam pencatatan koran datang dari agen besar ke agen koran ini hingga pengembalian atau retur koran, penulis melihat permasalahan ini sangat membutuhkan waktu pelaporan yang cepat sehingga mempermudah segala transaksi pembayaran, pendistribusian dan pengembalian koran yang tidak terjual.

3.1. Kegiatan Sirkulasi Koran
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kegiatan sirkulasi koran meliputi 4 hal utama yaitu:
1. Pemesanan
Sirkulasi koran ini dimulai dengan pemesanan koran kepada Agen Besar Garuda Press, Agen PT. Garuda Press merupakan agen koran yang menyuplai korannya untuk daerah Bekasi. Biasanya pemesanan di Agen Koran Alva dilakukan pada hari jumat dan pemesanan dibuat untuk 1 minggu kedepan, setelah pemesanan ini bila di hari berikutnya ingin melakukan perubahan untuk jumlah koran, bisa dilakukan pada jam 2 siang, 1 hari sebelumnya, tapi perubahan ini hanya bisa untuk menambah kuantitas koran dan tidak bisa mengurangi kuantitasnya. Pemesanan dilakukan oleh pemilik atau asisten dengan mengisi di form pemesanan, Jumlah pemesanan ditentukan oleh data penjualan pada minggu sebelumnya disertai analisa penjualan yang memungkinkan pada minggu berikutnya.
2. Koran Datang
koran atau majalah datang disesuaikan dengan koran dan majalahnya sendiri, ada koran atau majalah yang terbit setiap hari, mingguan, dwi minggu (2 minggu) dan bulanan, untuk majalah biasanya terbit bulanan, untuk koran yang terbit harian, sehari koran datang 2 kali pada jam 4 pagi dan jam 3 sore, karena disesuaikan dengan koran itu sendiri, untuk jam 4 pagi biasanya datang untuk koran harian pagi seperti Kompas, Seputar Indonesia (Sindo), Koran Jakarta, Lampu Hijau, Media Indonesia, Top Skor, Poskota, dan lain-lain. Untuk koran harian sore yang ada di Agen Koran Alva hanya Suara Pembaharuan. Saat datang dan langsung pengecekan antara data pemesanan koran dengan fakta koran yang datang, bila terjadi perbedaan jumlah kuantitas koran dan bila terjadi kerusakan koran bisa dikembalikan, pencatatan ini dilakukan oleh pemilik atau bisa dilakukan asistennya dengan mencatat secara manual di buku.
3. Pendistribusian dan Penjualan
Setelah koran dan majalah datang dari Agen Besar PT. Garuda Press, dicatat dan disesuaikan dengan fakta yang datang selesai maka barulah dibagi-bagikan, pertama kali koran yang diprioritaskan adalah untuk para pelanggan yang sudah memesan secara rutin atau pelanggan tetap, setelah itu baru dibagi lagi untuk di jual di toko . Pendistribusian koran dan majalah ini dilakukan oleh para loper koran untuk pengantaran ke pelanggan tetap dan penjualan sekitar kecamatan PoandokGede, memang pembagian distribusi ini dibagi 3 wilayah agar mempercepat distribusi, untuk di toko dijual oleh asisten.
Perhitungan dan Tutup Buku
Perhitungan ini dilakukan saat ingin menutup kegiatan kerja hari itu, untuk menghitung koran yang terjual dan menghitung koran yang tersisa untuk di kembalikan atau di retur kepada agen besar, serta menghitung komisi penjualan kepada para loper koran dan menghitung keuntungan agen koran Alva yang didapat hari itu untuk pendokumentasian untuk keperluan analisa kuantitas pemesanan untuk minggu selanjutnya sekaligus tutup pembukuan harian.

PT GARUDA PRESS Form Pemesanan
ID Koran Jumlah Harga /pc Total Revise KET
K001 Kompas
K002 Sindo
K003 Media Indonesia
K004 Koran Jakarta
K005 Lampu Hijau
K006 Koran Tempo
K007 Jakarta Globe
K008 Poskota
K009 Ponsel
K010 Pulsa
K011 Mobile
K012 PC Mild
K013 Top Skor
K014 Bola
K015 Gol
K016 Hunian
Majalah
M001 Tempo
M002 Gatra
M003 PC Media
M004 Selluler
M005 3G
M006 Hai
M007 Gadis
M008 Bazzar
M009 Spice
M010 Chord
M011 MG
M012 TTS Jaya
M013 TTS Surya
TOTAL
NB: Bila terjadi perubahan kuantitas tulis di revise dan di informasikan sebelum jam 14.00 sehari sebelumnya,
Perubahan hanya untuk penambahan kuantitas saja dan bukan untuk pengurangan kuantitas

Gambar 3.1. Form Pemesanan

PT. GARUDA PRESS Form Penerimaan
ID Koran Jumlah Terima KET
K001 Kompas
K002 Sindo
K003 Media Indonesia
K004 Koran Jakarta
K005 Lampu Hijau
K006 Koran Tempo
K007 Jakarta Globe
K008 Poskota
K009 Ponsel
K010 Pulsa
K011 Mobile
K012 PC Mild
K013 Top Skor
K014 Bola
K015 Gol
k016 Nova
Majalah
M001 Tempo
M002 Gatra
M003 PC Media
M004 Selluler
M005 3G
M006 Hai
M007 Gadis
M008 Bazzar
M009 Spice
M010 Chord
M011 MG
M012 TTS Jaya
M013 TTS Surya
TOTAL

PT. Garuda Press Penerima

Nama & Tanda Tangan Nama & Tanda Tangan

Gambar 3.2. Form Penerimaan

PT. GARUDA PRESS Form Retur
ID Koran Retur Rusak KET
K001 Kompas
K002 Sindo
K003 Media Indonesia
K004 Koran Jakarta
K005 Lampu Hijau
K006 Koran Tempo
K007 Jakarta Globe
K008 Poskota
K009 Ponsel
K010 Pulsa
K011 Mobile
K012 PC Mild
K013 Top Skor
K014 Bola
K015 Gol
K016 Hunian
Majalah
M001 Tempo
M002 Gatra
M003 PC Media
M004 Selluler
M005 3G
M006 Hai
M007 Gadis
M008 Bazzar
M009 Spice
M010 Chord
M011 MG
M012 TTS Jaya
M013 TTS Surya
TOTAL

PT. Garuda Press Penerima

Nama & Tanda Tangan Nama & Tanda Tangan

Gambar 3.3. Form Return

Diagram Arus Data Sistem Yang Berjalan

Diagram arus data merupakan alat yang sering digunakan sekarang ini karena dapat menggambarkan arus data di dalam sistem dengan terstruktur dan jelas, lebih lanjut lagi diagram arus data juga merupakan dokumentasi dari sistem yang baik. diagram arus data sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang sudah ada atau sistem baru yang ingin dikembangkan secara logika dengan mempertimbangkan dimana data tersebut mengalir.
Keuntungan menggunakan diagram arus data adalah memudahkan pemakai atau user yang kurang menguasai dalam menjalankan komputer mengerti sistem yang akan dikerjakan atau dikembangkan.

3.4. Bentuk Diagram Arus Data
Diagram arus data mempunyai 2 bentuk yaitu :
1. Diagram Arus Data Fisik
Dengan menggunakan diagram arus data fisik (DADF), bagaimana proses sistem yang ada akan lebih dapat digambarkan dan dikomunikasikan kepada pemakai sistem, sehingga analisa sistem akan dapat memperoleh gambaran yang jelas bagaimana sistem tersebut bekerja,. Diagram arus data fisik lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang ada. penekanan dari diagram arus data fisik adalah bagaimana proses-proses dari sistem yang diterapkan, maksudnya adalah dengan cara apa ini bekerja, oleh siapa dan dimana, serta proses-proses yang dilakukan manual. Untuk memperoleh ilustrasi bagaimana system yang ada diterpkan, diagram arus data fisik (DADF) harus memuat sebagai berikut:
- Proses-proses manual juga digambarkan
- Nama dari arus data harus juga menunjukkan fakta penerapannya seperti nomor formulir dan medianya (surat atau telepon)
- Simpanan data dapat menunjukan simpanan non computer menunjukkan tipe penerapannya apakah secara manual atau komputerisasi
- Nama dari pemrosesan yaitu pengguna, personal, departemen, sistem komputer atau program komputer yang mengeksekusi proses tersebut.
2.Diagram Arus Data Logika
Diagram arus data logika lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang akan diusulkan. Diagram arus data logika tidak menekankan pada bagaimana sistem ditetapkan, tetapi penekanannya hanya pada logika dari kebutuhan-kebutuhan sistem.
Simbol-Simbol Diagram Arus Data
Beberapa simbol yang digunakan diagram arus data:
1. Kesatuan Luar
2. Arus atau Link
3. Proses
4. Simpanan Data
Simbol-simbol diatas adalah komponen yang biasa digambarkan sebagai diagram arus data, arti dan maksud simbol-simbol diatas akan saya jelaskan lebih rinci sebagai berikut:
1. Kesatuan Luar
Setiap sistem pasti mempunyai batas sistem (boundary) yang memisahkan suatu sistem dengan lingkungan luarnya. Sistem akan menerima input atau penerimaan informasi serta data dan menghasilkan output atau hasil kepada lingkungan luarnya. Kesatuan luar dapat berupa orang, organisasi, dan lain-lain yang memberikan input atau menerima output dari sistem.
2. Arus atau Link
Arus atau link ini mengalir diantara proses-proses, simpanan data dan kesatuan luar yang menunjukan arus data yang dapat berupa hasil dan masukan untuk sistem proses sistem.
3. Proses
Proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh orang, mesin atau komputer dari hasil suatu arus data yan dihasilkan oleh proses.
4.Simpanan Data
Simpanan data merupakan simpanan dari data yang berupa suatu file atau database dari sistem komputer, arsip atau catatan manual, tabel surat atau suatu agenda catatan buku

3.3. Diagram Arus Data Sistem Yang Berjalan

Gambar 3.4.. Diagram Zero Diagram Arus Data Berjalan

Koran
Data Pemesanan Koran

Gambar 3.6. Diagram Arus Data Koran Datang

Gambar 3.5. Diagram Arus Data Sistem Pemesanan Koran

Gambar 3.6. Diagram Arus Data Koran Datang

Gambar 3.7. Diagram Arus Data Penjualan dan Tutup Buku

Bab IV
Penutup
4.1. Kesimpulan
Dari hasil analisa sistem yang sedang berjalan maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Setelah menganalisa sistem sirkulasi koran di Agen Koran Alva, agen koran ini masih menggunakan cara manual untuk melakukan hampir semua kegiatan usahanya dan belum terintegerasi dengan komputer. Komputer digunakan hanya untuk kegiatan pemesanan koran ke Agen Besar PT Garuda Press, dimana pemesanannya sudah diberikan formulir pemesanan dari PT Garuda Press serta dikirimkan ke alamat email ordering@garudapress.co.id.
2. Bila sistem sirkulasi koran sudah terkomputerisasi, maka semua kegiatan pengolahan data dan pengolahan laporan sirkulasi koran akan lebih terorganisir, rapi, tidak terlalu banyak kesalahan yang terjadi, efektif dan efisien dalam pendokumentasian.

4.2. Saran
Setelah melakukan kegiatan kerja praktek terhadap sirkulasi koran di Agen Koran Alva, maka penulis mempunyai saran dan pandangan umum yang perlu disampaikan agar sistem komputerisasi bisa diterima dan dapat dijalankan dengan semestinya, maka uraiannya sebagai berikut:
1. Dalam pembuatan sistem dengan cara komputerisasi perlu dipikirkan secara matang, karena hal tersebut membutuhkan biaya dan keseriusan dalam membuatnya.
2. Perlu adanya dukungan dan komitmen dari seluruh orang yang terlibat dalam kegiatan sirkulasi koran ini.
3. Perlu adanya kegiatan pelatihan atau training kepada karyawan bagaimana cara menggunakan sistem komputer tersebut.
Perlu dilakukannya pemeliharaan terhadap sistem yang baru agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya, serta perlu dilakukannya pembenahan dan penyempurnaan terhadap sistem tersebut secara berkala untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pengguna

DAFTAR PUSTAKA
Rancangan Sistim Usaha kecil, Djoko Susilo,Spd,MM
Rancangan Alur Data Informasi Sistim Manajemen, Dwi laksono, Skom, MM
Informasi dari Narasumber H.Ahmad pemilik Alva Agency

DATA RIWAYAT DIRI (CV)

Nama Lengkap : Ratih hardiani
Nama Panggilan : Ratih
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Mei 1991
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Anak ke : 1
Status dalam keluarga : Anak Kandung
Alamat : Perumahan Bhumi Kerinci. Jalan Kerinci III no 6 Depok Timur
Kelurahan Abadijaya , Kecamatan Sukmajaya
Golongan Darah : O

DATA RIWAYAT SEKOLAH
Asak TK : TK Nurul Islam

Asal SD : SDN Mekarjaya 30
Asal SMP : SMPN 4 Depok

Asal SMA : SMA Tugu Ibu I Depok

DATA RIWAYAT ORANG TUA
Nama Ayah : Luhur Hartono
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 6 Agustus 1964
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Pegawai Negeri
Nama Ibu : Sri Sumarni
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 28 Mei 1964
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat Orang Tua : Perumahan Bhumi Kerinci. Jalan Kerinci II No. 6
Kelurahan Abadijaya , Kecamatan Sukmajaya
Depok Timur – 16417

Pengertian Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah merupakan perwujudan kegiatan ilmiah yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Karya tulis ilmiah adalah karangan atau karya tulis yang menyajikan fakta dan ditulis dengan menggunakan metode penulisan yang baku.

Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain :

  1. Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
  2. Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
  3. Kerangka pemikiran dituangkan dalam sistematika dan notasi.
  4. Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur : kata, angka, tabel, dan gambar, yang tersusun mendukung kerangka pemikiran yang teratur.
  5. Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
  6. Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).

 

Karya ilmiah adalah suatu karya tulis yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian.

Karya tulis ilmiah harus memiliki gagasan ilmiah bahwa dalam tulisan tersebut harus memiliki permasalahan dan pemecahan masalah yang menggunakan suatu alur pemikiran dalam pemecahan masalah. Alur pemikiran tersebut tertuang dalam metode penelitian. Metode penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode keilmuan. Dengan kata lain bahwa struktur berpikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan.

Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan pemecahan masalah memiliki pengertian sebagai berikut:

a.Penelitian adalah usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan pemecahan.

b.Cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.

c.Cara ilmiah dilandasi oleh metode rasional dan metode empiris serta metode kesisteman.

d.Penelitian meliputi proses pemeriksaan, penyelidikan, pengujian dan eksperimen yang harus diilakukan secara sistematik, tekun, kritis, objektif, dan logis.

e.Penelitian dapat didefinisikan sebagai pemeriksaan atau penyelidikan ilmiah sistematik, terorganisasi didasarkan data dan kritis mengenai masalah spesifik yang dilakukan secara objektif untuk mendapatkan pemecahan masalah atau jawaban dari masalah tersebut.

Metode penulisan karya tulis ilmiah mengacu pada metode pengungkapan fakta yang biasanya berasal dari hasil penelitian dengan berbagai metode yang digunakan. Karya tulis ilmiah dapat juga disebut sebagai laporan hasil penelitian.

Laporan hasil penelitian ditulis sesuai dengan tujuan laporan tersebut dibuat atau ditujuan untuk keperluan yang dibutuhkan. Laporan hasil penelitian dapat ditulis dalam dua macam, yaitu sebagai dokumentasi dan sebagai publikasi. Perbedaan kedua karya tulis ilmiah ini terletak pada format penulisan.

Karya tulis ilmiah merupakan publikasi hasil penelitian. Dengan demikian format yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini ditentukan oleh isi penelitian yang menggambarkan metode atau sistematika penelitian. Metode penelitian secara garis besar dapat dibagi dalam empat macam.yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.

Karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian ini dapat dibedakan berdasarkan sasaran yang dituju oleh penulis. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan. objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang lebih cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya.

Dari berbagai macam bentuk karya tulis ilmiah, karya tulis ilmiah memiliki persyaratan khusus. Persyaratan karya tulis ilmiah adalah:

a.Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.

b.Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.

c.Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.

d.Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.

e.Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis

f.Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif.

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menulis karya ilmiah memerlukan persiapan yang dapat dibantu dengan menyusun kerangka tulisan. Di samping itu, karya tulis ilmiah harus menaati format yang berlaku.

 

 

http://www.google.com

Penulisan Karya Tulis Ilmiah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.

Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

 

Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan guru,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah yang berjudul “ Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia” ini.

 

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia?

2. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia?

3. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?

4. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia?

 

C. Tujuan Penulisan

1. Mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan di Indonesia.

2. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.

3. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di

Indonesia.

4. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi Pemerintah

Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

2. Bagi Guru

Bisa dijadikan sebagai acuan dalam mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan datang.

3. Bagi Mahasiswa

Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.

Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

 

B. Kualitas Pendidikan di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.

Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.

“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).

Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:

· Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.

· Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.

· Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.

· Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.

· Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.

· Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.

· Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.

· Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas pendikan.

 

C. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia

Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:

1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

 

2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.

Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.

Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Selain itu, masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.

Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.

Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.

Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaansumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.

 

3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.

Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.

Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

 

6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

D. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan guru,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

B. Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

 

PENGERTIAN PENALARAN SECARA UMUM

PENALARAN

adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasiempirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yangsejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisiyang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yangsebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar

Macam – macam Penalaran :

PENALARAN INDUKTIF

Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuanbaru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secaracanggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.

Jenis-jenis penalaran induktif adalah :

  1. Generalisasi

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulanumum.‡ Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.‡ Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.

Pernyataan semua bintang sinetron berparas cantik hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya : Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.

 

2. Analogi

Penalaran Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogidapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkankesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut:

a. Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.

b. Analogi dilakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.3. Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.

Contoh : Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki,ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu,seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran,dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya denganmendaki gunung untuk mencapai puncaknya.

 

3. Kausal

Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang salingberhubungan. Hal ini terlihat ketika tombol ditekan yang akibatnya bel berbunyi. Dalamkehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalanbecek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia.

Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagaiberikut:

a)    Sebab akibat

Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping ini pola seperti ini juga dapatmenyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang diaanggap penyebabkadang-kadang lebih dari satu. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukankemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihatpada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang nyata.Contoh :Belajar menurut pandangantradisional adalah usaha untuk memperoleh sejumlh ilmupengetahuan. ‘Pengetahuan´ mendapat tekanan yang penting, oleh sebab pengetahuanmemegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang memiliki pengetahuan, ia mendapat kekuasaan.

b)   Akibat sebab

Akibat sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Kedokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. Jadi hampir mirip dengan entimen. Akan tetapidalam penalaran jenis akibat sebab ini, Peristiwa sebab merupaka simpulan.Contoh : Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa, tetapi sudah berani menggunakan senjata tajam.Remaja yang telah kecanduan obat-obat terlarang tidak segan-segan merampok bahkan membunuh. Hal ini selain disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua dan pengaruhmasyarakat, pengaruh televisi dan film cukup besar.

c)    Akibat-akibat

Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu akibat yang lain. Contoh : Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek, ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan yaitu hari hujan.

PENALARAN DEDUKTIF

Deduktif adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal padasuatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

Jenis-jenis Penalaran Deduktif  :

1.Silogisme

Silogisme merupakan proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi).

Bentuk silogisme :

  1. Silogisme kategoris : terdiri dari proposisi-proposisi kategoris.
  2. Silogisme hipotesis : salah satu proposisinya berupa proposisi hipotesis.

Misalnya :

Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah

Premis 2 : Sekarang hujan

Konklusi : Maka jalanan basah.

Bandingkan dengan jalan pikiran berikut :

Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah

Premis 2 : Sekarang jalanan basah

Konklusi : Maka hujan.

 

2.Silogisme Standar

Silogisme kategoris standar = proses logis yang terdiri dari tiga proposisi   kategoris.

Proposisi 1 dan 2 adalah premis.

Proposisi 3 adalah konklusi

Contoh: Semua pahlawan adalah orang berjasa Kartini adalah pahlawan

Jadi : Kartini adalah orang berjasa.

 

http://www.google.com